KEMERDEKAAN DARI TUHAN

KEMERDEKAAN DARI TUHAN

Oleh : Mln. Bilal Ahmad Bonyan, Gunung Kidul – Yogyakarta.

Allah Ta’ala senantiasa memberikan hak setiap manusia, walaupun manusia sering melupakan kewajibannya kepada Allah Ta’ala.

Apakah kita sudah merdeka ? pertanyaan ini sering muncul menjelang peringatan hari kemerdekaan. Lalu bagaimana cara untuk mengetahui apakah kita sudah merdeka atau belum ?  

Begitu banyak hak mendasar yang semestinya dirasakan oleh setiap individu atau pun kelompok sebagai ciri bahwa mereka telah merdeka. Kemerdekaan yang diberikan oleh negara kepada rakyatnya, kemerdekaan sosial kepada setiap individu, atau kemerdekaan individu terhadap individu lainnya.

Merdeka bukan berarti bahwa setiap individu atau kelompok dapat bebas sepenuhnya melakukan atau mendapatkan apa yang diinginkan. Pemenuhan hak mendasar setiap pribadi atau kelompok hendaknya tidak melewati batas hak pribadi atau kelompok yang lain. Setiap hak senantiasa diiringi oleh kewajiban yang harus dilakukan.

Hak Hidup dan Kewajiban Bersyukur

Kehidupan di dunia yang luas dan indah, langit yang menaungi dan menurunkan hujan, setiap makanan dan minuman yang disediakan untuk kelangsungan hidup makhluk di dalamnya. Merupakan nikmat dari Allah swt yang harus disyukuri dengan cara beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dia-lah Yang telah menjadikan bumi bagimu sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari awan lalu dengan itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rizqi bagimu, maka janganlah kamu menjadikan sembahan-sembahan tandingan bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 21-22)

Kehidupan merupakan anugerah utama yang diberikan kepada setiap makhluk. Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan pikiran hendaknya mengisi kehidupan dengan berbagai kebaikan dan ibadah. Kehidupan telah diberikan kepada setiap manusia tanpa diistimewakan berdasarkan warna kulit.

Nikmat dan segala kebutuhan telah disediakan oleh Allah swt agar manusia dapat melaksanakan kewajibannya kepada Allah swt yang telah menciptakannya. Perintah yang pertama di dalam al-quran ini merupakan perintah untuk seluruh umat manusia dan bukan hanya untuk orang-orang Arab saja. Beribadah kepada Tuhan sebagai syukur atas nikmat kehidupan merupakan perintah yang bersifat universal.

Hak Bebas Memilih Keyakinan dan Kewajiban Mempertanggungjawabkan

Kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi banyak negara yang telah menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Bahkan pada kesempatan peringatan kemerdekaan, kebebasan ini menjadi salah satu tolak ukur bahwa ada sebagian anak bangsa yang masih belum sepenuhnya merdeka.

Kasus terbaru adalah penolakan oleh pemerintah daerah kabupaten Kuningan, Jawa Barat atas pendirian bakal makam sesepuh masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Penolakan tersebut didasarkan atas belum adanya IMB untuk pembangunan yang dianggap sebagai sebuah tugu oleh Satpol PP. Sementara dari Penghayat Sunda Wiwitan mengatakan sudah meminta izin tetapi ditolak.

Demikian pula dengan rencana pembangunan kantor Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gunung Kidul. Meskipun hasil putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Yogyakarta dan PTUN Surabaya telah dimenangkan oleh GKJ Gunung Kidul, namun hingga saat ini pemerintah kabupaten Gunung Kidul belum juga mengeluarkan IMB dikarenakan masih adanya penolakan dari masyarakat sekitar rencana pembangunan kantor Klasis tersebut.

Dan saudara-saudara Ahmadi di Transito, Lombok. Masih harus terus bersabar setelah hampir 15 Tahun berada di asrama dengan kehidupan yang sangat terbatas. Sementara di belahan wilayah lainnya mesjid-mesjid milik Ahmadiyah terbengkalai karena penyegelan, yang rata-rata disebabkan oleh kebencian bukan karena adanya aturan hukum yang dilanggar.

Demikianlah gambaran kondisi kebebasan yang diberikan pemerintah kepada sebagian masyarakatnya, perlakuan masyarakat terhadap masyarakat yang lain. Namun bagaimanakah kebebasan yang diberikan Allah Ta’ala kepada setiap manusia ?

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang lurus dari pada jalan yang salah…” (QS. Al-Baqarah : 256)

“Dan katakanlah : ‘inilah kebenaran dari Tuhanmu; maka barangsiapa menghendaki (beriman), maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki (ingkar), maka ingkarlah.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang aniaya itu api dengan langit-langit mengepung mereka…” (QS. Al-Kahfi : 29)

Allah swt senantiasa melaksanakan sunnah-Nya, yaitu memberikan petunjuk kepada manusia. Allah swt memberikan kebebasan sepenuhnya kepada manusia untuk memilih jalan hidup. Akan tetapi setiap pilihan yang diambil oleh manusia harus dipertanggungjawabkan di hari penghisaban kelak. Allah swt tidak menghukum manusia di dunia ini karena keyakinan yang dipilihnya.

Hak Politik dan Kewajiban Berlaku Adil

Kekuasaan merupakan salah satu yang dimimpikan oleh manusia. Dengan latar belakang niat yang berbeda-beda, manusia berusaha meraih kedudukan sebagai pemimpin. Sebagian orang yang menjadi penguasa karena ‘gift’ atas keturunan bangsawan, dan sebagian harus melalui proses pemilihan mencari suara terbanyak dari kepercayaan rakyat.   

Kekuasaan atau jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan oleh mereka yang terpilih mengemban kedudukan tersebut. Allah Ta’ala mengingatkan kepada mereka yang diberi kelebihan atas yang lain sebagai pemimpin, harus berlaku dengan adil terhadap mereka yang dipimpinnya.

“Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am : 165)

Salah satu ujian bagi seorang pemimpin adalah ketika orang-orang yang tidak menyukai kepemimpinannya, akan tetapi mereka menuntut sesuatu darinya. Allah swt telah mengingatkan setiap manusia khususnya mereka yang diberi amanat sebagai pemimpin agar tetap berlaku adil.

“Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang-orang yang teguh karena Allah dengan menjadi saksi yang adil; dan janganlah kebencian suatu kaum mendorongmu bertindak tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Waspada denga apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah : 8)

Perbedaan agama, suku, bahasa dan perbedaan fisik dengan mereka yang diberi amanat sebagai pemimpin, haruslah mendapat perlakukan yang sama atas segala hal yang diberikan oleh negara. Allah Ta’ala menjelaskan :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang memerangimu karena agama, dan yang tidak mengusirmu dari rumah-rumahmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS-Al-Mumtahanah : 8)

Rasulullah Muhammad saw di dalam sejarah lebih menyukai pemimpin yang dapat berlaku adil terhadap rakyatnya walaupun mereka berbeda dalam agama, bahasa dan perbedaan fisik lainnya. Dibandingkan para pemuka kaum yang aniaya bahkan terhadap kerabat sendiri.

Demikian beberapa hak yang menjadi bahan evaluasi bagi negara, kelompok atau individu terhadap kemerdekaan warga atau individu lainnya. Dan pastinya masih ada hak yang belum sepenuhnya diberikan oleh negara, masih ada kelompok masyarakat yang mengekang kelompok lain. Akan tetapi dari sejak semula, Allah Ta’ala senantiasa memberikan hak setiap manusia, walaupun manusia sering melupakan kewajibannya kepada Allah Ta’ala. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *