Rasulullah saw dan Pergaulan Sosial

Rasulullah saw dan Pergaulan Sosial

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. (QS Ali-imran : 112)

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat :13)

Dua ayat yang saya bacakan diatas menekankan tentang esensi interaksi sosial atau yang lebih dikenal dengan istilah hablum-minannaas. Seorang mukmin sejati adalah dia yang beriman dengan keimanan yang teguh pada Keesaan Allah taala, dan bersaksi atas keimanannya dengan sesungguh-sungguhnya bahwa Nabi Muhammad saw. adalah hamba-Nya dan Utusan-Nya. Dengan persaksian tersebut, seorang mukmin akan senantiasa memperhatikan dua aspek penting dalam menjalankan keimanannya. Aspek pertama terkait penghambaan sejati kepada Allah taala, adapun aspek yang kedua terkait dengan tanggung-jawab relationshipnya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Rasulullah saw. bersabda: “Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh orang lain, yaitu tatkala seseorang beriman kepada Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW., bersabda: “Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu kesusahan di dunia, niscaya Allah akan melepaskannya satu kesulitan dihari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang susah, niscaya Allah akan mempermudah baginya didunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup keaiban seorang muslim, niscaya Allah akan menutup keaibannya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selagi dia senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang melalui suatu jalan menuntut ilmu, niscaya Allah akan mempermudah baginya suatu jalan menuju ke surga. Suatu kaum tidak berkumpul dirumah Allah sambil mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya bersama-sama, melainkan ketentraman dan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan memanggil mereka kepada orang-orang yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat dalam amalannya, niscaya keturunannya tidak akan mampu untuk mempercepatkannya.” (HR. Muslim)

Memberikan Manfaat Kepada Orang Lain

Rasulullah saw. sangat menekankan modal utama dalam berinteraksi sosial, yakni terkait kualitas diri yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw.. dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw.. menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kedalam diri seorang muslim

Betapa Rasulullah saw. menekankan esensi kualitas diri bagi kemanfaatan bagi orang lain dalam konteks kehidupan sosial. Rasulullah saw. mengingatkan kita sekalian agar senantiasa berjuang untuk menghindarkan diri termasuk diantara orang-orang yang MUFLIS (merugi). Dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala Rasulullah saw. duduk-duduk bersama para sahabat lalu beliau bersabda:

“Tahukah kalian siapa yang dinyatakan sebagai orang yang merugi? Salah seorang sahabat menjawab: seseorang yang tiada memiliki harta dan dirham ya Rasulullah. Maka beliau saw. bersabda: “Sesungguhnya, orang yang merugi adalah seseorang yang datang dihari pembalasan dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat. Namun dia juga datang dengan membawa dosa kezaliman, dosa mencerca orang lain, dosa menuduh tanpa bukti kepada orang lain, dosa memakan harta orang lain, dosa menumpahkan darah orang lain, dan dosa memukul orang lain. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah pahala kebaikannya kepada setiap orang yang dia zalimi, hingga tatkala kebaikannya telah habis dibagikan, sementara semua kezalimannya belum tertebus maka diambillah kesalahan orang yang dizaliminya, lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan kedalam neraka.

Menanamkan Cinta dan Kepedulian

Selain kita memberikan manfaat untuk orang lain, Rasulullah saw. menekankan pentingnya memiliki cinta, simpati dan empati bagi orang lain dalam ranah pergaulan sosial.

Didalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam sejarah kita melihat sepak terjang kemuliaan teladan Rasulullah saw. bahkan dimasa sebelum nubuwwat. Beliau dikenal orang sebagai pribadi yang jujur, dapat dipercaya, penuh cinta kasih terhadap sesama, menolong orang yang kesusahan, dll. Sungguh sebuah modal besar dalam kehidupan pergaulan sosial. Setelah masa nubuwwat berikut kesaksian Abu sufyan tentang kemulian akhlak Nabi Muhammad saw. yang disampaikan kepada Raja Romawi bernama Heraclius.
Terkisah, Heraclius menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam. Pertemuan tersebut terjadi pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi Muhammad saw. dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah didaerah Iliya’ mereka menemui Heraclius atas undangannya untuk berdialog di majelisnya bersama para pembesar-pembesar Negeri Romawi.

Heraclius berbicara kepada mereka melalui penterjemah. Heraclius berkata;
“Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?.”
Abu Sufyan berkata; “Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia”.
Heraclius berkata; “bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?”
Aku jawab: “Dia adalah dari keturunan baik-baik (bangsawan) “.
Heraclius: “Apakah bapaknya seorang raja?” Jawabku: “Bukan”.
Heraclius : ”Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?” Jawabku: “Yang mengikutinya adalah orang-orang yang rendah”.
Dia bertanya lagi: “Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?” Aku jawab: “Bertambah”.
Dia bertanya lagi: “Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?” Aku jawab: “Tidak ada”.
Dia bertanya lagi: “Apakah kalian pernah mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?” Aku jawab: “Tidak pernah”.
Dia bertanya lagi: “Apakah dia pernah berlaku curang?” Aku jawab: “Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan hal itu”.
Dia bertanya lagi: “Apakah kalian memeranginya?” Aku jawab: “Iya”.
Dia bertanya lagi: “Bagaimana kesudahan perang tersebut?” Aku jawab: “Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami yang mengalahkan dia”.
Dia bertanya lagi: “Apa yang diperintahkannya kepada kalian?” Aku jawab: “Dia menyuruh kami; ‘Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. ‘Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim”.

Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak ada. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya seorang raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?” Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul.

Aku juga bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya, hingga bila aku sudah berada di sisinya, pasti aku akan basuh kedua kakinya.

Selain itu sebuah kesaksian besar tentang diri Rasulullah saw. disampaikan tatkala Rasulullah saw. memberi izin hijrah beberapa sahabah ke Habsyah, yang terdiri dari 83 laki-laki dan 19 wanita.
Penguasa Habasyah adalah Najasyi. Seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana, serta suka melindungi orang-orang yang lemah. Sesampainya di Habasyah, mereka mendapatkan perlindungan dari Najasyi, sehingga bisa leluasa dan lebih tenang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, ketenangan ini terusik. Yaitu tatkala orang-orang Quraisy meminta Raja Najasyi untuk menyerahkan kaum muslimin. Mendengar hal itu, Raja Najasyi marah, seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka kepada kaumnya sampai aku menemui mereka. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah yang telah dikatakan oleh dua orang ini benar? Kalau memang benar, maka akan aku kembalikan, mereka. Akan tetapi, kalau tidak, aku akan melindungi dan berbuat baik kepada mereka.”

Kemudian Raja Najasyi mengutus orang agar memanggil kami. Sebelum berangkat untuk menemuinya, kami berkumpul dan saling mengatakan, “Sesungguhnya Najasyi akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Maka terangkanlah dengan apa yang telah kalian imani.” Dan kami bersepakat mengangkat Ja’far bin abi thalib sebagai juru bicaranya. Berangkatlah kami untuk menemuinya. Kami mendapatkan Raja Najasyi tengah duduk di antara para menterinya yang memakai pakaian kebesaran mereka. Kami juga mendapatkan Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah telah ada di hadapan mereka.

Ketika semuanya telah siap, Najasyi menoleh kepada kami dan berkata, “Apakah agama yang kalian peluk, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak pula kalian masuk ke dalam agamaku atau agama yang lainnya?”

Maka berkatalah Ja’far bin Abi Thalib, “Wahai Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, kami memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, keamanahannya dan sangat memelihara diri. Dia mengajak kami agar beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia pun memerintahkan kepada kami agar jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, meninggalkan perbuatan keji, memelihara darah, dan melarang kami dari berkata dusta, melarang memakan harta anak yatim, melarang menuduh wanita yang shalihah dengan perbuatan zina serta memerintahkan kami agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan. Maka kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dibawanya dari sisi Allah. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Wahai Raja, ketika kaum kami mengetahui tentang apa yang kami lakukan, mereka memusuhi kami, menyiksa kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang, dan agar kami kembali menyembah berhala. Maka tatkala mereka terus menekan kami, memaksa kami, akhirnya kami memilih engkau dari yang lainnya dan kami sangat berharap engkau berbuat baik kepada kami dan tidak menzalimi kami.”

Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’far, “Apakah engkau memiliki apa yang dibawa oleh Nabimu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Raja Najasyi memerintahkan, “Bacakanlah untukku!” Ja’far pun membaca surat Maryam.

Ketika mendengar ayat tersebut, menangislah Raja Najasyi, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Menangis pula para menterinya, sehingga basah buku-buku mereka. Dan Najasyi berkata, “Sesungguhnya, apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam merupakan satu sumber.” Najasyi menoleh kepada Amru bin Ash dan berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, mereka tidak akan aku serahkan kepada kalian!”

Memberikan Teladan

Rasulullah saw. adalah pribadi yang senantiasa menunjukan perwujudan ahlak mulia dalam berinteraksi sosial, beliau tidak hanya sebatas menyampaikan sabdanya namun lebih dari itu beliau pun mencontohkan kemuliaan ahlak tersebut.

Pada suatu riwayat, Rasulullah saw. bersabda tentang kemuliaan memberi makan kepada orang lain dan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak. Beliau bersabda:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta mengucapkan salam pada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.” (HR. Bukhari no. 6236).

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa di sudut pasar Madinah ada seorang wanita tua pengemis Yahudi yang buta, yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW. mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW. menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW., tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW. yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah puteriya Aisyah RA. yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW. dan beliau bertanya kepada puterinya tersebut, wahai anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW. senantiasa pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, ujar Aisyah RA.. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, seru si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang makanan dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dia haluskannya makanan tersebut, setelah itu ia suapkan kedalam mulutku. Abubakar RA seketika itu mangis dan tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dan berkata buruk tentang dirinya namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…lalu pengemis tersebut bersyahadat baiat kedalam agama Islam.

Hak-Hak Sesama Muslim

Rasulullah saw. pun sangat memperhatikan hak-hak muslim terhadap sesama muslim yang juga menjadi catatan bagi kita dalam bersosialisasi setiap hari. Beliau bersabda:

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam, yaitu: (1) jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, (2) jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, (3) jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, (4) jika ia bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan Yarhamukallah (artinya = mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu), (5) jika ia sakit maka jenguklah dan (6) jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya”. (HR. Muslim, no. 2162).

Keramahan dan Kebijaksanaan Rasulullah

Rasulullah saw. adalah seseorang yang sangat memahami makna komunikasi dengan orang lain. Beliau tidak hanya ramah kepada orang-orang yang beriman, namun juga ramah kepada setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, jenis kelamin, strata sosial, agama dll. Di dalam kualitas komunikasinya beliau senantiasa menanamkan pesan-pesan Ilahi, dan dalam setiap ucapannya selalu mengandung kebijaksanaan dan cinta kasih, sehingga semua potensi panca indera orang-orang yang bergaul dengan beliau akan diliputi dengan kententraman batin dan kedamaian sejati.

Pada suatu hari fakir miskin Muhajirin datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Orang-orang kaya telah pergi dengan derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: Apa itu gerangan? Mereka menjawab: Mereka salat seperti kami salat, mereka puasa seperti kami puasa. Tetapi mereka bersedekah sedang kami tidak sanggup, mereka mampu memerdekakan budak sementara kami tidak mampu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang dapat membuat kalian mengejar orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian? Tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih utama kecuali ia melakukan seperti yang engkau lakukan. Mereka menjawab: Tentu, ya Rasulullah. Rasulullah bersabda: Kalian baca tasbih (subhhaabnallah), takbir (Allahu akbar) dan tahmid (alhamdulillah) setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali (HR Muslim)

Selain itu dalam konteks komunikasi Rasulullah saw. senantiasa menyampaikan dengan hikmah dan kebijaksanaan. Terkisah seorang Arab Badui datang kehadapan Rasulullah saw. dia menolak mengakui anak dari istrinya karena anaknya berkulit hitam. Lalu Rasulullah saw. menegaskan bahwa bayi itu adalah anaknya.

Menjaga Hubungan Baik

Dalam konteks hubungan personal, Rasulullah saw. senantiasa menjaga hubungan dengan baik. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa seorang Yahudi selalu bersiap diri setiap kali Rasulullah saw. melewati jalan dekat rumahnya. Jika Rasulullah saw. sudah terlihat, dia pun segera mengambil kotoran unta lalu melemparkannya ke tubuh Rasulullah saw. Mendapat perlakukan tersebut, Rasulullah saw. tidak pernah marah. Beliau hanya tersenyum dan segera membersihkan kotoran tersebut. Sekali waktu, Yahudi tersebut meludahi wajah Rasulullah saw.. Kejadian semacam ini terus berulang hingga beberapa lamanya. Selama waktu itu pula Rasulullah saw.. senantiasa sabar dan tidak memberi balasan, kutukan, atau pun ancaman.

Suatu hari, beliau melewati jalan itu lagi. Aneh bin ajaib, Yahudi itu tidak terlihat sehingga Rasulullah saw.. pun terbebas dari gangguannya. Namun demikian, Rasulullah saw.. malah penasaran. Beliau pun berusaha mencari tahu kemana Yahudi yang setiap hari melemparinya dengan ludah dan kotoran. Rupanya si Yahudi itu dikabarkan sakit keras sehingga tidak bisa keluar rumah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Rasulullah saw.. bergegas ke rumah si Yahudi untuk menjenguknya. Terkejutlah si Yahudi ketika tahu bahwa Muhammad saw.., orang yang setiap hari dia ganggu dan dia hina, menyambangi rumahnya ketika dia dalam keadaan tidak berdaya. Mukanya yang pucat terlihat semakin pucat. Setelah meminta izin kepada tuan rumah, Rasulullah saw.. menemui si Yahudi itu dengan baik-baik, menanyakan kabar, dan membawakan kepadanya sedikit buah tangan. Ketakutan yang menyelimuti tubuh yang tergolek karena sakit itu, sedikit demi sedikit memudar dan akhirnya hilang. Rasa benci yang menyeruak di dadanya perlahan berganti menjadi rasa cinta. Yahudi tua itu menangis tersedu-sedu. Dia merasa malu, menyesal, dan sangat bersalah karena perbuatannya selama ini, yang tidak senonoh kepada seorang manusia mulia. Kunjungan Rasulullah saw.. hari itu benar-benar telah mengubah hidupnya. Seseorang yang senantiasa dizaliminya justru menjadi orang pertama yang datang menjenguk ketika dia sakit. Sebagai tanda terima kasih dan pertobatannya, Yahudi itu pun mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah saw.

Rasulullah saw.. adalah pribadi yang sangat menekankan hubungan baik dengan tetangga. Didalam Hadist kita temukan sabda mulia Rasulullah saw. yang berbunyi:

“Saya perintahkan kepadamu untuk memperlakukan tetangga dengan baik dan mendesak perlakuan baik mereka sedemikian rupa sehingga saya kira, Nabi saw. seolah-olah akan memberikan hak-hak waris kepada mereka. (at-Tabrani dengan sanad jayyid)

Perlakuan yang baik kepada tetangga dan penghindaran diri dari perilaku yang membahayakan dan merisaukan tetangga demikian penting, sampai Nabi menggambarkan hal ini sebagai satu dari tanda-tanda keimanan yang benar kepada Allah dan Hari Akhir. Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memperlakukan tetangganya dengan baik; Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya; Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” (Muttafaq’alaih)

Cara-Cara Pergaulan Sosial

Rasulullah saw. benar-benar telah mengajarkan kepada kita tentang cara bersosialisasi yang baik, beliau mengajarkan beberapa hal penting diantaranya: (Seperti dikutip dari Ust Sihabuddin Muhaemin)

1. Menyatukan Kecintaan Dengan Orang Lain.

Jika seseorang mencintai orang lain, maka katakanlah bahwa dia mencintainya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Jika seseorang mencinta saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepada saudaranya (karena Allah SWT)”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

2. Saling Mendoakan Kebaikan Antara Keduanya.

Seseorang yang menjalinkan kasih sayang karena Allah SWT, maka bertemu dan berpisah nya pun karena Allah dan saling mendoakan kebaikan pada keduanya.

3. Jika Bertemu Saling Memberi Senyuman Ikhlas.

Seorang Muslim yang menjalin kasih sayang karena Allah akan menunjukkan kegembiraan jika bertemu dengan saudaranya sesama Muslim, dan saling menghadiahkan senyuman manis yang ikhlas kepada saudaranya. Rasulullah SAW. bersabda:

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun sekalipun hanya sekuntum senyuman kegembiraan yang kamu berikan kepada saudaramu ketika Bertemu. (HR. Muslim).

4. Saling Bejabat Tangan Jika Bertemu Dengan Sesama Muslim.

Rasulullah saw mengajar umatnya untuk saling berjabat tangan dengan sesama saudaranya yang Muhrim. Jika bertemu. Rasulullah saw bersabda:

“Tidak ada dua orang Muslim yang apabila bertemu saling berjabat tangan, kecuali Allah taala akan menggugurkan dosa keduanya sebelum tangan keduanya berpisah. (HR. Abu Daud).

5. Saling Menghubungkan Kasih Sayang Antara Sesama Saudaranya.

Bentuk kasih sayang yang perlu di jalinkan di antaranya dengan saling menziarahi saling memberi dan lainnya. Pemberian yang kita berikan kepada saudaranya aka dapat menjalinkan hubungan yang baik.

6. Memberi Salam Dan Mengucapkan Selamat Jika Bertemu Dengan Saudaranya.

Seorang saudara yang baik terhadap saudaranya. Akan memulai pertemuannya dengan mengucapkan salam terhadap saudaranya serta mengucapkan selamat kepada saudaranya. Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa berjumpa dengan saudaranya kemudian mengucapkan selamat kepada saudaranya di atas keberhasilan yang di capainya, maka Allah akan menggembirakannya nanti pada hari kiamat. (HR. Thabrani).

7. Memberi Hadiah Kepada Saudaranya.

Jika seorang Muslim mendapatkan keberhasilan maka saudara Muslim lainnya mengucapkan selamat dan memberi sedikit hadiah sebagai penghargaan atas keberhasilannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Saling memberi hadiah lah kamu dengan sesama saudaramu, niscaya aku akan saling mencintai.” (HR. at-Thabrani).

8. Saling Memberi Pertolongan Dengan Sesama Saudaranya.

Saling membantu saudaranya merupakan kewajiban seorang Muslim. Rasulullah SAW. bersabda:

Dan Allah akan sentiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya, jika membantu sesama saudaranya. (HR. Muslim).

9. Saling Memenuhi Hak Saudaranya.

Dalam mempererat persaudaraan maka setiap muslim wajib menunaikan hak-hak saudaranya, seperti menjenguk saudara yang, mendoakan ketika bersin, saling tolong-menolong dalam perkara kebaikan serta membanteras kejahatan dan kezaliman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *