Khalifah Islam di Tengah Ideologi Multikulturalisme

Khalifah Islam di Tengah Ideologi Multikulturalisme

Khalifah dan perbincangan mengenai bentuk dan konsepnya, diakui sebagai sebuah diskusi yang lekat dengan Islam. Sistem khilafat, tak dipungkiri oleh sejarah, adalah ‘bekal’ yang belum habis dilahap perdebatan di dalam koridor pencarian Khalifah Islam Saat Ini.

Tak sedikit bahasan tentang khalifah, mulai dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab, sampai kepada pemaparan manusia sebagai khalifah di bumi. Alhasil, perbincangan tentang khalifah Islam saat ini pun terus bergulir, mencari sosok yang paling tepat mendapat julukan tersebut.

Termasuk Indonesia yang sempat dihantui rongrongan ideologi negara oleh paham khilafah. Hal ini adalah bukti kecil bahwa kepemimpinan seorang khalifah tetap menjadi ‘cita-cita’ umat Islam. Khalifah adalah manifestasi kepemimpinan dan sistem bernegara yang lekat dengan kemuliaan.

Mencari Khalifah Islam Saat Ini

Tak sedikit organisasi masa yang meyakini dan (bahkan sudah) mengusung khalifah sebagai pucuk pimpinannya. Bahkan, ada organisasi yang mencari khalifah untuk memimpin wilayah dan menjadi pemegang kedaulatan negara. Hal itu berarti, pada Pundak seorang khalifah (yang diinginkan) harus terdapuk kekuasaan mengatur masyarakat dan negara secara politik.

Di tempat lain, ada organisasi yang menempatkan khalifah sebagai pimpinan rohani saja. Meski demikian, organisasinya sudah tersebar di lebih dari 200 negara. Khalifah bagi jemaat ini bukanlah pemegang kedaulatan sebuah negara tertentu, melainkan hanya mempersatukan para jemaatnya secara spiritual.

Fenomena ini menjadi menarik, karena alih-alih bersatu, pemahaman umat Islam tentang pencarian sosok khalifah Islam pun masih beragam. Masih banyak persepsi terhadap arti, konsep, dan tugas khalifah itu sendiri.

Khalifah Sebagai Etos Spiritual

Lagi-lagi sejarah membuktikan bahwa khalifah yang ditunjuk, tidak lain adalah sebuah simbol perjuangan spiritual demi tegaknya Islam di muka bumi. Apalagi, ada masa ketika para khalifah mengangkat pedang untuk menghunus para musuhnya. Tapi fakta juga mengatakan bahwa musuh tunduk karena akhlak yang dicontohkan sesuai Al-Qur’an, sunnah, dan hadis.

Ketika beberapa ormas memperjuangkan sistem khilafah dengan harapan kejayaan Islam, maka pemikiran ini seharusnya berbanding lurus dengan tujuan turunnya Islam ke muka bumi. Makna rahmat bagi seluruh alam adalah cakupan yang maha dahsyat luasnya. Di mana hal itu tidak mungkin gugur hanya di hadapan orang-orang beragama Islam saja. Bukankah bumi ini juga diisi oleh manusia lain yang tidak beragama Islam?

Andai Islam diturunkan untuk memberi rahmat untuk seluruh alam, maka segala sesuatu yang ada di semesta harus turut merasakan kedamaian dari hadirnya sang khalifah. Artinya, sistem khilafat dan khalifah, tidak dibentuk hanya untuk kepentingan lahiriah manusia saja, tetapi juga menghidupkan sisi kemanusiaannya, toleransi, dan juga kehidupan untuk lingkungan.

Dalam hal mana, kesemuanya membutuhkan pemantik yang membuat orang ‘bisa merasa’ lingkungannya. Sebagaimana cahaya yang tidak mungkin bersatu dengan kegelapan, maka hasrat duniawi pun tidak akan hilang jika seseorang belum menyalakan api rohani di dalam dadanya. Alhasil, ‘rasa lapar’ pada pemenuhan kebutuhan jasmanilah yang akan menutup penglihatan kepada sisi kemanusiaan, toleransi, perdamaian, dan kelestarian lingkungan.

Oleh karenanya, tugas khalifah seyogyanya bisa menggiring umat atau para pengikutnya, untuk terus menjaga nyala api rohani, agar kehidupan manusia di bumi bukan sekadar jasmaniah-nya saja, melainkan bersanding pula dengan tingginya rasa kemanusiaan, toleransi, cinta perdamaian, dan kelestarian lingkungannya.

Multikulturalisme Islam Indonesia

Agama Islam masuk ke berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui proses akulturasi budaya. Hal ini berimbas pada pemahaman dan implementasi Islam di Indonesia yang beragam dari sabang sampai merauke.

Di luar masalah perdebatan bahwa Islam seharusnya satu karena bersumber dari kitab yang sama, namun tak bisa dipungkiri bahwa ada kearifan lokal yang sudah terlebih dulu berterima dengan masyarakat. Nilai tersebut menjadi sebagai sebuah patokan kebaikan, yang mengerucut pada tujuan bermasyarakat yang damai, toleran, dan saling menjaga satu sama lain.

Indonesia, bukan dibentuk oleh Islam, melainkan oleh budaya-budaya di tiap-tiap daerahnya. Tujuan murni Islam sebagai pembawa kedamaian, adalah juga cita-cita masyarakat Indonesia terdahulu yang tidak menginginkan terjadinya perpecahan. Kesimpulannya, nilai kedamaian Islam lah yang seharusnya diangkat untuk berjalan bersama. Islam harus hadr untuk memperkuat budaya yang sudah ada.

Apalagi, para pemeluk agama Islam di Indonesia seharusnya sudah menemukan keindahan Islam yang damai. Hal ini karena moral masyarakatnya yang sudah terlebih dahulu terbentuk oleh ‘unggah-ungguh’ atau tata-krama masyarakat setempat.

Hal semacam ini tentu akan jauh lebih indah, ketimbang meng-copy paste Islam dalam bentuk budaya Arab. Di luar itu, kultur Indonesia dan Islam faktanya juga memiliki sudut pandang dan tujuan kebaikan yang sama terhadap kemanusiaan, toleransi, dan kelestarian lingkungan. Keduanya sama-sama ingin memanusiakan manusia, dan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat mereka hidup di dunia.

Barangkali yang berbeda hanya pada ritualnya saja, karena Islam tidak menempatkan ritual adat sebagai ibadah. Sementara itu, adat-istiadat tidak juga mengenal gerakan salat seperti layaknya yang diajarkan baginda nabi. Meskipun demikian, andai dipahami bahwa tujuan dari salat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu umat muslim juga tidak akan serta merta melabrak dengan bengis upacara adat. Apa sulitnya meninggalkan dengan cara yang makruf?

Khalifah Islam Saat Ini

Menelaah bangsa Indonesia yang heterogen, dan juga negara lain yang tumbuh dengan budaya mereka masing-masing, maka pertanyaan akan mengerucut pada urgensi adanya khalifah Islam saat ini. Semakin menarik memperbincangkan ide khalifah di Indonesia, karena Pancasila sudah diakui bersama sebagai sistem bernegara yang paripurna.

Namun demikian, bagaimana jika ide khilafah ala generasi pilpres diredam, dan menggantikannya dengan khalifah Islam yang sesuai dengan rahmatan lil alamiin. Jika khalifah adalah sebutan bagi pemimpin Islam, maka pemimpin tersebut nantinya adalah pengusung nilai-nilai Islam yang damai. Selain itu, khilafat tidak tumbuh dengan menimbulkan perpecahan nilai yang sudah lebih dulu ada.

Tidak mudah jika kembali menilik ideologi negara Indonesia yang sudah selesai. Di dalam Pancasila sudah termaktub perkara ketuhanan, sekaligus menjabarkan dalam butir-butirnya tentang kebebasan memilih keyakinan dan beribadah sesuai keyakinannya itu. Maka (andai ada) khalifah pun, harus bersesuaian dengan semangat toleransi beragama yang sudah lebih dulu hidup di Indonesia.

Nilai Pancasila dan Ajaran Moral Khilafat

Pancasila mengagungkan nilai kemanusiaan sebagai penghargaan atas hak hidup seseorang. Selain itu, keinginan untuk selalu bersatu sebagai bangsa yang beradab, mengedepankan musyawarah untuk mencapai keadilan, adalah nilai mulia di dalam Pancasila yang juga sudah tak mungkin tergeser.

Dengan demikian, khalifah yang akan dihadirkan pun, harus memiliki program kemanusiaan yang nyata. Khalifah harus memuliakan sesama manusia, dan bisa berlaku adil kepada yang berhak memperoleh keadilan.

Pancasila tidak hanya membicarakan urusan kemanusiaan. Di dalamnya tersirat juga nilai untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, sebagai bentuk nyata ketaatan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka khalifah yang didambakan, adalah pemimpin mulia yang juga peduli kepada lingkungan hidup, dan mengisyaratkan gerakan-gerakan cinta lingkungan.

Dengan kata lain, khalifah yang dibutuhkan di dunia adalah khalifah yang bisa bersanding dengan sistem bernegara di mana pun. Bukan lagi khalifah yang berkorelasi dengan tahta politik, ataupun yang meributkan batas wilayah negara. Khalifah yang berkesesuaian dengan sila keadilan dalam Pancasila pun akan terwujud, manakala tidak ada perpecahan dalam pengagungannya sebagai sosok suci pemimpin umat.

Dikutip dari sebuah buku karya Mirza Masroor Ahmad berjudul Krisis Dunia dan Jalan Menuju Peradaban, “ketika dunia telah menciut menjadi satu desa global, maka manusia harus menyadari tanggung jawabnya sebagai manusia. Hal itu akan membantu menegakkan perdamaian dunia berdasarkan pada keadilan dan memenuhi seluruh persyaratan keadilan itu” (2014: 12-13).

2 thoughts on “Khalifah Islam di Tengah Ideologi Multikulturalisme

  1. Subhanallah Walhamdullilah semoga Allah SWT memberikan pemahaman yg murni kepada setiap insan dimuka bumi.aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *