DISORIENTASI “A NEW NORMAL” KITA

Oleh : Mln. Muhammad Nurdin, Jakarta Utara

Saya cukup kaget membaca sebuah kabar di media online bahwa telah terjadi peningkatan jumlah kasus covid-19 di Ibukota. Dalam hati saya bertanya, ada apa dengan “a new normal” kita?

Kita tahu bersama. A new normal adalah harapan kita untuk memulai segalanya dari nol. Seperti ungkapan manis teteh-teteh petugas pom bensin, “Mulai dari nol yah.”

Kita tahu bahwa covid-19 itu bukan penyakit kaleng-kaleng seperti batuk, pilek, sariawan juga bibir pecah-pecah yang semuanya bisa diselesaikan dengan pergi ke warung klontong. Tapi kita juga tahu bahwa kita tidak bisa selamanya di rumah. Kita perlu keluar untuk mengaisi kepingan-kepingan rezeki dari Tuhan.

Dan ini adalah dilema bersama. Satu sisi kita hidup dalam bayang-bayang virus yang setiap saat mengintai. Tapi di sisi lain menghindarinya pun tak membuat kita benar-benar hidup.

Akhirnya, kita mencoba berdamai dengan covid-19 dengan sebuah jargon yang bernama “a new normal”. Dan kita telah memulainya sebulan lebih kebelakang. Dan kini kita mempertanyaan, ada apa dengan “a new normal” kita?

Saya melihat, yang kini kita lakukan bukanlah berdamai dengan corona? Yang kini kita lakukan adalah “masa bodoh” dengan corona!

Kita tidak sedang berdamai dengan corona, kita tengah mengajak berkelahi corona! Coba lihat. Banyak orang yang sudah lupa cara memakai masker.

Bukan berarti mereka tak mampu beli. Mereka lebih takut dengan bapak Satpol PP ketimbang corona yang setiap saat bisa menyerang.

Coba lihat lagi. Kita kini makin terbiasa berkerumun di banyak tempat umum, seperti pusat-pusat perbelanjaan. Konsep “physical distancing” telah dianggap lagu lama yang gak ada efeknya.

Jangan tanya lagi soal hidup bersih, yang kemarin-kemarin kita sampai “rebutan” beli hand sanitizer. Kran air dengan sabun cuci tangannya mulai jadi pajangan yang sepi pengunjung.

Setidaknya ada dua hal yang perlu untuk diluruskan. Pertama, corona itu nyata. Ia benar-benar ada di sekeliling kita. Kita gak pernah tahu kapan dia singgah di tubuh kita. Yang kita harus tahu adalah:

Usahakan agar ketika dia mau mampir, kita siap untuk mengusir!

Kita harus sadar bahwa memakai masker yang tepat sesuai aturan juga menegakkan physical distancing setiap saat adalah cara terbaik berdamai dengan corona. Sebelum ada vaksin, tidak tepat dan tidak bijaksana berkelahi dengannya satu lawan seribu.

Kedua, hidup bersih sebenarnya anjuran agama. Corona tak ada pun, agama telah mengajarkan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Pandanglah kebiasaan hidup bersih ini dalam kacamata ibadah yang bisa mendekatkan diri kita pada hikmah.

Nah, kalau dua hal di atas kita jalani dan amalkan setiap saat, itu berarti kita telah siap berdamai dengan corona. Dan “a new normal” kita bisa menjadi jalan untuk hidup yang lebih baik lagi di tengah pandemi.

Oleh karena itu. Rukun-rukunlah dengan corona.

2 thoughts on “DISORIENTASI “A NEW NORMAL” KITA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *