Peran Orang Tua Dalam Membentuk Generasi Muda yang Islami

Peran Orang Tua Dalam Membentuk Generasi Muda yang Islami

Oleh: Mln. Dian Kamiludin Achmad

Sebagaimana kita maklumi bersama bahwa anak keturunan kita saat ini mungkin ada yang masih balita, PAUD, TK, SD, SMP, SMU bahkan di Perguruan Tinggi, sesungguhnya mereka itu adalah harta dan asset berharga Jemaat di masa mendatang.

Namun semua itu tidak terjadi begitu saja, perlu adanya doa, usaha dan perjuangan dari kita semua sebagai orang tua. Semua itu dapat terwujud kalau dalam diri orang tua pun ada niat dan semangat yang kuat untuk menjadikan anak keturunan kita sebagai regenerasi/penerus terbaik Jemaat.

Jika kita simak dari ayat di atas, bahwa Allah Taala bermaksud: Wahai orang mukmin, kewajiban engkau bukan hanya memikirkan diri sendiri supaya menjadi orang yang saleh, melainkan engkau berkewajiban juga menjaga keluarga engkau dari bahaya terjerumus ke dalam api.

Di dalam ayat tersebut Allah Taala telah berfirman kepada para orang tua agar senantiasa waspada dan kita hendaknya jangan berusaha hanya membuat diri kita sendiri orang saleh, melainkan harus pula memperhatikan serta membimbing keluarga kita terutama anak-anak kita dari api neraka dengan jalan menata tarbiyyat/pendidikan agama dan akhlak dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, kaum muslimin diharuskan juga memelihara akhlak dan sopan-santun mereka ini, karena perilaku mereka ini sedikit banyaknya memberi dampak kepada anak-anak pada khususnya dan seluruh keluarga pada umumnya.

Jelasnya, tanggung jawab ini dapat dilaksanakan melalui tiga cara: pertama, memelihara agama dan akhlak keluarga khususnya anak-anak; kedua, senantiasa memberi nasihat-nasihat; ketiga, menjauhkan mereka dari pergaulan yang buruk.

Di dunia ini, setiap orang baik laki-laki maupun perempuan apabila sudah menikah maka keinginannya adalah padanya ada keturunan, dan keturunan yang sehat yang akan menjaga perniagaannya. Yang akan mengawasi hartanya. Kalau ia orang kaya ia ingin supaya anaknya setelah besar nanti menjaga perniagaannya kalau dia miskin adalah keinginannya bahwa setelah  putranya besar nanti akan menjadi pelindungnya, akan tetapi ada juga golongan seperti ini yang menginginkan yaitu kalau putranya sudah besar, ia akan mendahulukan agama diatas kepentingan dunia, inilah keinginannya yakni agamanya senantiasa berada di atas kepentingan dunia. Dan golongan ini di zaman sekarang adalah golongan orang tua Ahmadi yang senantiasa menginginkan keturunan kami menjadi khadim agama dan orang yang dekat dengan Allah Taala.

Inilah keinginan dan semangat yang sebelum  si ibu melahirkan anaknya ia siap untuk mewakafkan anak keturunannya untuk agama, dan semangat inilah yang berjalan terus untuk masa-masa yang akan datang dalam keturunan Ahmadiyah dan golongan Ahmadiyah ini terus mendapatkan kemajuan siang dan malam dan terus bertambah maju kedepan dan dalam menyempurnakan misi ini, ibu-ibu Ahmadi dengan diam-diam terus menerus memberikan tarbiyyat yang berharga untuk anaknya.

Hal ini merupakan pengamalan dari cara pertama dalam hal tanggung jawab tersebut, bahwa sebagai orang tua hal pertama yang diniatkan dalam memiliki keturunan adalah agar anak-anak kita baik dalam rohani dan agamanya. Jadi sejak dalam kandungan pun sudah mendapat pemeliharaan dari segi rohani dan akhlak yang dicontohkan dulu oleh orang tuanya.

Sambil menjelaskan hakikat memberikan tarbiyyat pada anak keturunan, Hadhrat Masih Mauud as bersabda, Kalau seseorang berkata bahwa, Aku menginginkan anak saleh, yang takut pada Tuhan, pengkhidmat agama, maka perkataan ini hanyalah merupakan pendakwaannya saja. Sebelum ia memperbaiki keadaaan dirinya sendiri.

Cara kedua sebagai bentuk tanggung jawab tersebut adalah dengan cara di atas, senantiasa memberikan nasihat-nasihat yang dibarengi dengan amalan kita sebagai orang tua. Dalam memberikan contoh amalan dari nasihat kita tersebut agar lebih difahami dan mengena kepada mereka.

Sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda, Untuk tarbiyyat memperbaiki akidah dan memperbaiki akhlak adalah hal yang sangat penting. Perlu menciptakan perasaan dalam diri anak-anak bahwa agama lebih utama dari dunia. Jika orang tua tidak berakhlak baik maka anak pun tidak akan berakhlak. Jadi, menciptakan kemampuan membedakan buruk dan baik di dalam diri anak juga merupakan tanggung jawab orang tua.

Maksud dari ayat tersebut adalah carilah pergaulan dengan orang-orang saleh dan ikutilah jejak mereka supaya senantiasa dapat berada pada jalan lurus. Di dalam diri hamba-hamba yang dekat kepada Allah terkandung semacam daya listrik; mereka dianugerahi daya tarik dan kekuatan magnetis.

Jadi cara ketiga sebagai bentuk tanggung jawab kita adalah menjaga pergaulan anak-anak kita, agar terjaga dari pengaruh pergaulan buruk. Untuk itu kuasailah kecintaan kepada anak-anak dengan kecintaan pada Tuhan, yaitu dekatkan anak-anak kita kepada masjid dan kegiatan-kegiatan Jemaat.

Bersamaan dengan usaha-usaha ini, doa harus dipanjatkan. Sebab, di setiap sudut ada bahaya setan. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan anak dan tarbiyyat anak, doa adalah tiang pertama.

Dalam menafsirkan  surat Ibrahim ayat 36 yang berbunyi:

36. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda,Kecintaan Ilahi merupakan muzahirah yang sedemikian suci. Hadhrat Ibrahim as bersabda :Kalaulah anak-anakku tidak menyekutukan Allah Taala, maka berarti mereka adalah anak saya, tapi kalau mereka menyekutukan Allah Taala, berarti mereka bukan anak saya.

Banyak sekali dosa-dosa yang disebabkan oleh kecintaan pada anak-anak. Hadhrat Ibrahim as mengajarkan pada kita bahwa kecintaan terhadap anak hendaknya sampai batas tertentu, sehingga jangan sampai anak menjadi rusak karenanya. Seyogyanya kecintaan yang bisa menghancurkan anak-anak itu bukanlah kecintaan, tetapi itu adalah permusuhan.

Walaupun kita sudah berupaya, tapi anak tidak (berubah) menjadi baik, maka pada satu waktu perlu juga untuk memutuskan hubungan (qatla taalluq: didiamkan-Pent) dengannya. Karena ketika mereka mengetahui bahwa orang tua kita menyembunyikan kesalahan kita, maka mereka sedang melangkah pada jalan yang salah, tapi ketika mereka tahu bahwa adanya pengawasan yang sesuai terhadap kesalahan-kesalahan kita, maka hal itu akan menjadikan islah bagi anak anak. Untuk itu kuasailah kecintaan kepada anak anak dengan kecintaan pada Tuhan.

Jadi Hadhrat Ibrahim as berdoa, pertama tama selamatkanlah anak-anakku dari syirik tapi kalau diantara mereka ada yang bertentangan dengan cara-cara ku, maka aku akan mengatakan padanya bahwa mereka bukan anak saya,  tapi karena Engkau adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengasih, karena itu aku berharap, ampunilah dosa-dosa mereka. ciptakanlah selalu sarana-sarana untuk kemajuannya.

Kemarahan terhadap anak tidak berarti bahwa keraskanlah hati kepada mereka, tapi hukuman secara zahiri ada, meskipun demikian hendaknya hati tetap selalu berdoa bagi mereka, dan perhatikanlah selalu ishlah (perbaikan) bagi mereka.

Semoga kita semua mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah Taala untuk menjadikan keturunan kita sebagai generasi terbaik Jemaat di masa depan. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *